SMAN 1 Pujud Jl. Lintas Timur No.1 Pujud Rokan Hilir...Raih Prestasi, Junjung Tinggi Budi Pekerti...
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Cerita Rakyat Melayu Riau - Si Lancang


Si Lancang

Di sebuah negeri bernama Kampar, pada zaman dahulu kala, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang Emak dan anak laki-lakinya bernama si Lancang. Ayah si Lancang telah lama meninggal. Emak bekerja menggarap ladang orang lain, dan Lancang menggembalakan ternak milik tetangganya. Setelah cukup dewasa, si Lancang memohon izin kepada Emaknya untuk pergi merantau ke negeri orang, ingin bekerja dan mengumpulkan uang. Walau sedih, Emaknya mengizinkan Lancang pergi merantau.

Setelah bertahun-tahun merantau, si Lancang menjadi seorang pedagang kaya yang mempunyai berpuluh kapal dagang dan ratusan anak buah. Istrinya pun cantik jelita. Suatu hari si Lancang mengajak istrinya untuk berdagang ke Andalas. Setelah perbekalan dan barang dagang siap, berangkatlah mereka, hingga akhirnya kapal si Lancang yang megah merapat ke Sungai Kampar, kampung halaman si Lancang. Penduduk pun berdatangan hendak melihat kapal yang megah tersebut. Banyak penduduk masih mengenali wajah si Lancang. “Wah si Lancang rupanya! Megah sekali kapalnya, sudah jadi orang kaya raya,” kata guru mengaji si Lancang. Dia lalu memberitahukan kedatangan si Lancang kepada Emak si Lancang yang terbaring sakit di gubuknya.

Betapa senangnya Emak si Lancang mendengar kabar anaknya datang, dan bergegas bangkit dari tempat tidurnya. Dengan berpakaian seadanya dan berjalan tertatih-tatih karena sakit, Emak berjalan ke pelabuhan tempat kapal si Lancang. Sesampai di pelabuhan, Emak tak sabar ingin melihat anaknya. Saat hendak naik ke kapal, anak buah si Lancang menghalanginya dan melarangnya untuk naik ke kapal. Emak telah menjelaskan bahwa dia adalah Emaknya si Lancang.

Tiba-tiba si Lancang muncul dan berkata, “Bohong! Dia bukan emakku. Usir dia dari kapalku!” teriak si Lancang. Rupanya dia malu jika orang tahu bahwa wanita tua dan miskin itu adalah emaknya. “Oh… Lancang…. Anakku, ini Emak. Emak sangat merindukanmu”, rintih emak.

“Usir perempuan gila itu dari kapalku!” perintah si Lancang. Anak buah si Lancang mengusir emak dan mendorongnya sehingga terjerembab. Dengan hati sedih Emak si Lancang pulang ke gubuknya, dan menangis terus menerus. Sesampai di gubuknya, Emak mengambil lesung dan nyiru. Emak memutar-mutar lesung dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata, “Ya Tuhanku… si Lancang telah aku lahirkan dan aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, dia tidak mau mengakui diriku sebagai emaknya. Ya Tuhanku… tunjukkan padanya kekuasaan-Mu!”

tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Petir menggelegar dan menyambar kapal si Lancang serta gelombang Sungai Kampar menghantamnya. Kapal si Lancang hancur berkeping-keping.

“Emaaaak… si Lancang anakmu pulang. Maafkan aku, Maaak,” terdengar sayup-sayup teriakan si Lancang. Akhirnya si Lancang tenggelam bersama kapalnya yang megah. Barang-barang yang ada di kapal berhamburan dihempas badai. Kain sutra yang dibawa si Lancang sebagai barang dagangan terbang melayang-layang kemudian jatuh berlipat-lipat dan menjadi Negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri.

Sebuah gong terlempar jauh dan jatuh di dekat gubuk Emak si Lancang di Air Tiris Kampar kemudian menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi Pasubilah yang terletak berdekatan dengan Danau si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal si Lancang tegak tersisa. Bila sekali waktu tiang bendera itu muncul ke permukaan yang menjadi pertanda bagi masyarakat Kampar akan terjadi banjir di Sungai Kampar. Banjir irulah air mata si Lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada Emaknya.

Digubah dari sumber :
Cerita Rakyat Melayu
Sabrur R. Soenardi
Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu
2005

Penulis Siswa Kls XI IPA3
KELOMPOK 
Hendri Supriyanto
Sultan M.k
Yuyun Wahyuni
Nur Hayati
Ibeb Sutari

Cerita Rakyat Melayu | Batang Tuaka


Batang Tuaka merupakan sebuah sungai (batang) yang berada di Indragiri Riau. Sungai ini menurut cerita rakyat Melayu, merupakan perwujudan dari tangisan seorang ibu yang telah didurhakai oleh anaknya serta tangisan anaknya yang memohon ampun kepada ibunya. Buku Cerita Rakyat Melayu berjudul “Batang Tuaka” ditulis oleh Yulia S. Setiawati dan Daryatun yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Adicita Karya Nusa, cetakan pertama bulan April tahun 2005. Berikut ringkasannya :

Pada zaman dahulu di daerah Indragiri Riau, hiduplah seorang wanita bersama anak laki-lakinya yang bernama Tuaka. Mereka hidup di sebuah gubuk yang terletak di muara sebuah sungai. Ayah Tuaka telah lama meninggal. Mereka saling menyayangi. Tuaka selalu membantu emaknya yang bekerja keras untuk penghidupan mereka.


Mereka sering ke hutan untuk mencari kayu bakar agar bisa dijual. Pada suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari hutan, mereka melihat 2 ekor ular besar sedang berkelahi. Mereka segera berlindung dan mengamati perkelahian tersebut. Sepertinya 2 ekor ular tersebut sedang memperebutkan berupa sebutir permata. Akhirnya salah satu ular itu mati dan satunya lagi sangat kesakitan oleh luka-lukanya. Tuaka dan emaknya berusaha menolong ular itu dan membawanya pulang untuk dirawat.


Beberapa hari kemudian, ular tersebut mulai sembuh dan menghilang dari rumah Tuaka. Permata hasil kemenangan perkelahiaanya dahulu ditinggalkan dalam keranjang di rumah Tuaka. Tuaka dan emaknya terheran-heran dan mengamati permata itu dengan kagum.


“Mengapa ular itu meninggalkan permatanya, Mak?” tanya Tuaka.
“Mungkin ular itu ingin berterima kasih kepada kita. Sebaiknya permata itu kita jual dan hasilnya bisa digunakan untuk berdagang,” jawab Emak Tuaka penuh rasa syukur.


Permata itu laku dijual Tuaka dengan harga tinggi kepada seorang saudagar, cuma sayangnya uang saudagar tersebut kekurangan uang dan mengajak Tuaka ikut ke Temasik untuk menjemput semua uang tersebut. Setelah berpamitan dengan emaknya, Tuaka pun pergi ikut saudagar itu ke Temasik (Singapura).


Sesampai di Temasik, saudagar membayar semua uang kepada Tuaka. Karena uang berlimpah, Tuaka lupa akan pulang ke kampung halamannya. Dia berdagang dan menetap di Temasik dan menjadi saudagar kaya raya. Rumahnya megah, kapalnya banyak, istrinya pun cantik. Dia tak ingat lagi dengan emaknya yang miskin dan hidup sendirian di kampung.


Suatu hari, Tuaka mengajak istrinya berlayar dengan kapal ke suatu tempat. Kapal megah Tuaka akhirnya berlabuh di kampung halamannya. Tetapi, rupanya Tuaka enggan menceritakan kepada istrinya. Tuaka tidak mau istrinya mengetahui bahwa dirinya adalah anak seorang wanita tua yang miskin.


Sementara itu, kedatangan Tuaka terdengar sampai ke telinga emaknya. Emaknya bergegas menyongsong kedatangan anak lelakinya yang lama telah pergi. Emak pun bersampan mendekati kapal megah Tuaka.


“Tuaka anakku. Emak merindukanmu, nak,” teriak emak dari sampan.
“Siapa gerangan wanita tua itu,” tanya istri Tuaka.
Tuaka yang malu mengetahui emaknya yang tua dan miskin datang ke kapal megahnya, pura-pura tidak mengenalinya.
“Hei penjaga, jauhkan wanita tua miskin itu dari kapalku. Dasar orang gila tak tahu diri! Beraninya dia mengaku sebagai emakku,” teriak Tuaka.


Emak Tuaka pergi menjauh dengan sedih. “Oh Tuhan... ampunilah dosa Tuaka karena telah durhaka kepadaku. Berilah dia peringatan agar menyadari kesalahannya,” ratap Emak Tuaka. Rupanya Tuhan mendengar ratapan emak Tuaka. Tiba-tiba Tuaka berubah menjadi seekor elang dan istrinya menjadi seekor burung punai. Emak Tuaka terkejut dan juga sedih melihat anaknya berubah menjadi burung elang, karena emak pun masih menyayangi anaknya tersebut.


Burung elang dan burung punai itu pun terus berputar-putar sambil menangis di atas emak Tuaka. Air mata kedua burung itu terus menetes dan membentuk sungai kecil yang semakin lama semakin besar. Sungai itu kemudian diberi nama Sungai Tuaka (Batang Tuaka). Jika di suatu siang tampak seekor elang terbang di sekitar muara Batang Tuaka sambil berkulik atau menangis, burung tersebut diyakini masyarakat sekitar sebagai penjelmaan Tuaka yang menjerit memohon ampun kepada emaknya.

Penulis Siswa Kls XI IPA3 
KELOMPOK 
Hendri Supriyanto
Sultan M.k
Yuyun Wahyuni
Nur Hayati
Ibeb Sutari

Cerita Rakyat Melayu Riau | Burung Tempua dan Burung Puyuh


Sumber : Tamadun Melayu
Cerita ini merupakan salah satu cerita melayu yang berkenaan dengan dunia hewan, selain juga cerita tentang manusia serta tumbuh-tumbuhan. Burung Tempua dan Burung Puyuh ditulis oleh Irwan Effendi yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa cetakan pertama September 2006. Di dalam khasanah bahasa Indonesia, Burung Tempua disebut sebagai Burung Manyar. Berikut ringkasan ceritanya :

Di tanah Melayu pada zaman dahulu kala hiduplah seekor burung Tempua dan seekor burung Puyuh. Keduanya bersahabat akrab, tolong menolong dan menyayangi sejak lama. Pada siang hari mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka dan duka selalu bersama. Kalau hujan sama berteduh, kalau panas sama bernaung. Mereka berpisah hanya jika pada malam hari. Dalam semua hal mereka sepakat, namun dalam hal bersarang mereka berbeda pendapat.


Suatu hari mereka bercakap tentang sarang burung yang terbaik. Menurut Tempua, sarangnya nyaman dan aman, sementara puyuh menceritakan sarangnya yang praktis.


“Aku memiliki sarang yang cantik. Sarangku terbuat dari helaian alang-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi sehingga tidak akan basah saat hujan, dan tidak akan kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua.


Sarang Tempua tergantung tinggi di atas pohon walaupun ada yang agak rendah. Jika rendah maka pasti di dekatnya ada sarang ular, lebah atau penyengat. Tempua berlindung pada hewan-hewan tersebut. Kalau Tempua bersarang rendah, pastilah ada yang menjaganya. Orang Melayu mengatakan, “kalau tidak ada berada, takkan mungkin Tempua bersarang rendah.” Hanya karena keberadaan sesuatu hal (penjaga) maka Tempua mau bersarang di dahan rendah.


Berbeda dengan Tempua, sarang burung Puyuh lebih praktis. Puyuh merasa tak perlu menghabiskan waktunya untuk membuat sarang. Puyuh cukup mencari batang pohon yang tumbang untuk berlindung di bawahnya. Jika tidak aman, Puyuh akan berpindah ke tempat lain lagi.


“Dengan sarang berpindah-pindah, musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” kata Puyuh.


Akhirnya mereka sepakat untuk mencoba sarang masing-masingnya. Malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Dengan susah payah Puyuh memanjat pohon sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua yang nyaman, kering dan bersih serta rapi. Kemudian, malam pun berlarut, Puyuh merasa haus dan meminta minum kepada Tempua. “Maaf kawan. Tidak mungkin aku terbang dan turun mencari air karena keadaan gelap gulita,” kata Tempua. Puyuh pun tertidur dalam kehausan.


Tak lama ketika Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup kencang. Pohon tempat sarang Tempua pun bergoyang-goyang seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun-ayun. Puyuh ketakutan sekali dan seakan-akan mau muntah karena terombang-ambing. “Tenanglah kawan, kita tidak akan jatuh,” kata Tempua menghibur. Tak lama angin pun reda.


Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi sekali. Puyuh berkata, “kawan, aku tak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh lagi pula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja dan memaklumi alasan Puyuh. Mereka pun kembali bersama-sama mencari makan siang hari itu.


Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon tumbang untuk dijadikan tempat bermalam karena malam ini giliran Tempua yang mencoba sarang Puyuh. Setelah mencari, akhirnya ditemukan pohon tumbang di dekat air mengalir. Sangat cocok bagi Puyuh.


“Puyuh, dimana kita akan tidur?” tanya Tempua karena ia tidak melihat sarang untuk tidur mereka.
“Disini, kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi mengikuti apa yang dilakukan Puyuh.


Tak lama kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas sedangkan Tempua masih gelisah dan mondar-mandir saja. Tiba-tiba hujan turun, membasahi tempat Puyuh dan Tempua tidur. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu tidak akan kedinginan lagi,” jawab Puyuh.


Keesokan harinya Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak bisa tidur di sarang Puyuh. Ternyata mereka masing-masing tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka akhirnya memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda begitu, mereka saling menghargai perbedaan dan pendapat itu sebagai hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat.

Penulis Siswa Kls XI IPA3
KELOMPOK 
Hendri Supriyanto
Sultan M.k
Yuyun Wahyuni
Nur Hayati
Ibeb Sutari

PUTRI TUJUH


Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada di pesisir Timur Propinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya.  Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.
Konon, pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.
Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai....cantik di Umai. Ya, ya.....d‘umai...d‘umai....” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.
Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.
Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.  
Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.
Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.
Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.
Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan.
Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:
Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh 
Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending
Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.
Daftar pustaka: internet
                        

ASAL MULA PULAU SANGKAR AYAM

Alkisah, di Pantai Solop, Indragiri Hilir, Riau, Indonesia, ada seorang guru mengaji dan silat yang bernama Tuk Solop. Umurnya sudah mulai udzur. Janggutnya yang lebat sudah berwarna putih. Jika berjalan, ia harus ditopang dengan tongkat sakti pemberian gurunya. Tuk Solop seorang guru yang sakti dan terkenal hingga ke pelosok negeri. Walaupun sakti, ia tetap rendah hati. Ia sangat sopan dan santun jika bertutur sapa. Kepada yang muda ia sayangi, dan kepada yang tua ia hormati. Ia memiliki banyak murid yang datang dari berbagai pelosok negeri. Namun herannya, sejak tujuh purnama yang lalu tidak ada lagi yang hendak berguru kepadanya. Murid-muridnya yang sudah tamat kini sudah pergi, tidak tersisa seorang murid pun. Pantai Solop pun menjadi sepi.

Sementara itu, tidak jauh dari Pantai Solop, ada sebuah dusun yang bernama Serimba. Di dusun itu ada seorang pemuda bernama Pendekar Katung. Ia sangat sakti dan memiliki ilmu silat tingkat tinggi. Kerisnya dapat menyala bagaikan halilintar. Tubuhnya kebal terhadap segala jenis senjata tajam. Namun, sifatnya bertolak belakang dengan sifat Tuk Solop. Ia sangat angkuh dan sombong. Ia memiliki berpuluh-puluh murid dan pengawal yang setia.

Pendekar Katung adalah seorang pendekar yang kaya-raya. Ia menjadi kaya karena selalu menang taruhan menyabung ayam. Ia memiliki ayam jago yang belum terkalahkan. Sudah ratusan ayam yang mati oleh ayam jagonya itu, sehingga Pendekar Katung semakin terkenal sampai ke pelosok negeri. 

Pendekar Katung juga memiliki seorang adik perempuan yang cantik jelita bernama Suri. Sebenarnya, Suri bukanlah adik kandungnya, tapi ia adalah anak dari seorang penyabung yang sudah meninggal, karena mempertaruhkan nyawanya dengan Pendekar Katung. Ayah Suri dibunuh oleh pengawal Pendekar Katung di tengah hutan Serimba. Suri yang masih bayi saat itu kemudian diasuh oleh Pendekar Katung hingga menjadi seorang gadis cantik jelita.
Pada suatu ketika, seorang pengembara muda datang ke Pantai Solop. Kedatangannya ke pantai itu hendak menuntut ilmu. Ia pernah mendengar bahwa di pantai itu ada seorang guru sejati yang tidak memiliki murid dan tengah mencari murid yang setia untuk mewariskan ilmunya, karena sebentar lagi akan menghadap kepada Yang Kuasa.

Sesampainya di Pantai Solop, pengembara muda itu kebingungan, karena tidak seorang pun yang ditemuinya. Ia hanya menyaksikan pantai pasir putih yang begitu indah dan deburan ombak yang memecah suasana sunyi.
”Kenapa tidak ada siapa-siapa di tempat ini? Di mana sang Guru itu?” tanya Pengembara Muda itu dalam hati.

        Setelah melayangkan pandangan ke sekelilingnya, orang yang dicarinya tidak juga ditemukan. Akhirnya, untuk menghilangkan rasa letih setelah berjalan cukup jauh, ia pun duduk di bawah sebuah pohon di pantai itu sambil menikmati siliran angin laut dan menyaksikan gulungan ombak sedang berkejar-kejaran.

Di tengah menikmati pemandangan yang indah itu, tiba-tiba dari kejauhan tampak seseorang menuju ke arahnya. Mulanya ia mengira bahwa sosok itu hanyalah sebuah bayangan. Namun, setelah orang itu mulai mendekat hatinya pun mulai lega.

“Mmm, berarti memang ada kehidupan di tempat ini,” gumam Pengembara Muda itu.
“Apakah dia itu sang Guru yang sedang saya cari?” tanyanya dalam hati.
Ketika orang itu betul-betul berada di dekatnya, tiba-tiba keraguan bercampur rasa kagum menyelimuti hatinya. Ternyata orang yang menghampirinya itu adalah seorang gadis cantik jelita nan elok rupawan.
“Amboi, cantik sekali gadis ini! Jangan-jangan ia seorang bidadari yang turun dari kayangan,” pikirnya dalam hati.
Laksana tersihir, Pengembara Muda itu diam tidak bergerak, saat gadis itu menyapanya dengan lemah lembut.
“Abang mau ke mana? Sepertinya Abang bukan orang daerah ini?”

Pengembara itu masih tetap diam menatap gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Keraguan kembali menyelimuti hatinya. Ia berpikir, jangan-jangan gadis itu adalah hantu jambangan yang hendak mengganggunya. Mustahil seorang gadis cantik tinggal sendirian di tempat yang sunyi itu.
”Kenapa Abang menatapku seperti itu? Abang tidak usah takut. Saya juga manusia seperti Abang,” ujarnya meyakinkan Pengembara Muda itu.

”Benarkah? Tapi, kenapa kamu ada di tempat ini seorang diri?” Pengembara Muda itu balik bertanya berusaha menghilangkan keraguannya.
”Benar, Bang! Nama saya Suri. Saya tinggal di balik hutan sebelah sana. Kampung kami di sana,” jelas gadis yang menyebut namanya Suri itu.
Mendengar penjelasan Suri, keraguan Pengembara Muda itu pun mulai hilang. Namun, matanya tidak berkedip terus menatap Suri.

”Sudahlah, Bang! Janganlah menatapku seperti itu, saya jadi takut!” seru Gadis itu.
”Maaf, Abang hanya kagum melihat kecantikan, Dik Suri. Secantik-cantik gadis di negeri Abang, tidak seorang gadis pun yang dapat menyamai kecantikan, Dik Suri!” puji Pengembara Muda itu.
”Ah, Abang! Suri jadi malu,” kata Suri sambil tersenyum malu.
”Benar, Dik! Abang benar-benar kagum dengan keelokan wajahmu dan kelembutan tutur sapamu,” puji Pengembara itu mencoba untuk mencuri hati sang Gadis.
”O iya, nama saya Bujang Kelana,” sambung Pengembara Muda itu sambil memperkenalkan namanya.
”Kalau boleh tahu, Abang dari mana dan apa maksud kedatangan Abang ke tempat ini?” tanya Suri ingin tahu.

”Abang ini seorang pengembara hendak berguru di tempat ini. Kabar yang tersiar di negeri Abang, di tempat ini ada seorang guru yang alim sedang mencari murid untuk mewariskan ilmunya. Apakah Adik mengetahui guru itu?” Bujang Kelana balik bertanya.
”Iya, memang di tempat ini ada seorang guru terkenal yang bernama Tuk Solop. Namun, sejak murid-muridnya pindah berguru kepada Pendekar Katung, ia pun pergi entah ke mana,” jelas Suri.
”Pendekar Katung? Rasanya Abang pernah mendengar nama itu. Apakah adik juga mengenalnya?” tanya Bujang Kelana penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, gadis cantik langsung pergi tanpa memberikan jawaban sedikit pun. Sepertinya ia sedang menyembunyikan sesuatu.
”Suri....! Kenapa kamu pergi?” teriak Bujang Kelana.
”Kembalilah, Abang belum selesai bicara!” teriaknya lagi.
”Kalau Abang mau bicara denganku, tunggu aku besok pagi di tempat ini,” jawab Suri sambil berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Bujang Kelana sangat heran dan terdiam. Kenapa saat menyebut nama Pendekar Katung, tiba-tiba ia pergi begitu saja. ”Ada apa gerangan dengan Suri? Apa aku telah menyinggung perasaannya?” pikirnya dalam hati sambil melayangkan pandangannya ke arah Suri yang berlari menuju ke hutan.
Setelah Suri menghilang di balik pepohonan, Bujang Kelana pun berniat pergi. Namun, ketika hendak beranjak, tiba-tiba seorang laki-laki buta sedang memegang tongkat keluar dari balik semak-semak sambil berjalan tertatih-tatih menghampirinya. Bujang Kelana pun mulai takut.

”Hai, Anak Muda! Kamu tidak usah takut. Aku telah mendengar semua pembicaraan kalian. Perlu kamu ketahui, gadis cantik itu adalah adik Pendekar Katung,” ujar Datuk Buta itu.
”Tapi, kenapa dia pergi saat saya menyebut nama Abangnya itu?” tanya Bujang Kelana penasaran.
”Pendekar Katung adalah pemuda yang gagah berani dan sakti. Tapi sayang, ia tidak menggunakan ilmu kesaktiannya untuk kebajikan. Ia seorang pendekar aliran ilmu hitam. Kesaktiannya ia gunakan untuk menyiksa orang lain. Selain itu, ia juga sangat gemar menyabung ayam. Apa pun ia jadikan sebagai taruhan. Jangankan harta, nyawanya sekali pun ia pertaruhkan,” jelas Datuk Buta itu.
”O, iya, Anak Muda! Kamu siapa dan kenapa datang ke tempat ini?” Datuk Buta itu balik bertanya kepada Bujang Kelana.

”Kedatangan saya ke tempat ini hendak berguru kepada Tuk Solop,” jawab Bujang Kelana.
”Ooo... begitu!” sahut Datuk Buta sambil mengangguk-anggukkan kepala.
”Apakah Datuk mengetahui keberadaannya?” tanya Bujang Kelana.
”Tuk Solop sudah lama meninggalkan tempat ini. Saya juga tidak tahu ke mana perginya. Ia pergi karena tidak ada lagi yang mau berguru kepadanya. Orang-orang benci kepadanya, karena dipengaruhi oleh Pendekar Katung. Sebenarnya, ia sudah lama mencari seorang murid yang setia untuk mewariskan ilmunya, namun tidak seorang pun yang bersedia. Akhirnya, ia pun pergi entah ke mana,” jelas Datuk Buat itu.

Usai memberikan penjelasan kepada Bujang Kelana, Datuk Buta itu bergegas mohon diri, karena dari kejauhan ia merasakan seseorang sedang menuju ke arah mereka melalui indra keenamnya. Bujang Kelana pun semakin heran.

”Kenapa orang-orang yang saya temui di tempat ini semuanya tergesa-gesa pergi? Aneh, sungguh aneh!” gumam Bujang Kelana penuh rasa heran.
Benar firasat Datuk Buta itu, beberapa saat kemudian, Suri tampak berlari menuju arah Bujang Kelana.
”Bang! Tolong Suri, Bang!” seru Suri tergesa-gesa dengan nafas yang masih tersengau-sengau.

”Apa yang terjadi denganmu, Suri? Bukankah Suri besok pagi baru kembali ke mari?” tanya Bujang Kelana penasaran.
”Pendekar Katung hendak menikahiku,” jawab Suri sambil menoleh ke belakang, karena takut Pendekar Katung menyusulnya.
”Kenapa bisa? Bukankah dia itu Abangmu?” tanya lagi Bujang Kelana.
”Sudahlah, Bang! Jangan banyak tanya dulu! Ayo kita pergi dari sini!” ajak Suri sambil menarik tangan Bujang Kelana.

Bujang Kelana tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menuruti kemauan Suri. Setelah merasa aman dari kejaran Pendekar Katung, Suri pun menceritakan perihal dirinya bahwa sebenarnya ia bukanlah adik kandung Pendekar Katung. Ibunya telah meninggal semasa Suri masih kecil. Sejak itu Suri hidup bersama ayahnya. Namun, ayahnya dipengaruhi oleh Pendekar Katung untuk menggelar sabung ayam. Ayahnya selalu kalah taruhan dalam gelar sabung ayam. Akhirnya, ayahnya bangkrut. Rumah sebagai harta mereka satu-satunya juga melayang, karena kalah taruhan. Oleh karena tidak lagi memiliki harta yang bisa dipertaruhkan, akhirnya ayahnya nekad mempertaruhkan nyawanya. Namun, malang nasib ayahnya, ayam jagonya kalah dan mati di tengah gelanggang. Ayahnya pun disiksa dan dibunuh, lalu dibuang ke tengah hutan. Sejak itu, Suri diasuh oleh Pendekar Katung hingga dewasa seperti sekarang ini.

”Abang ikut prihatin atas musibah yang menimpa ayahmu, Suri!” kata Bujang Kelana dengan perasaan haru setelah mendengar cerita Suri.
Dalam suasana haru itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Datuk Buta di hadapan mereka.
”Eh, Datuk! Kenapa Datuk masih di sini? Bukankah tadi Datuk sudah pergi?” tanya Bujang Kelana terkejut.

”Aku tidak pergi. Aku bersembunyi di balik semak-semak itu,” jawab Datuk Buta itu.
”Kalau benar yang diceritakan Suri itu, berarti aku adalah ayahnya,” lanjutnya.
”Apa maksud, Datuk?” tanya Suri terkejut seolah-olah tidak percaya.
”Benar, Suri! Aku adalah ayahmu. Dulu namamu adalah Intan. Namun rupanya Pendekar Katung yang bejat itu telah mengganti namamu. Tapi, tak apalah, Nak! Karena semua orang lebih mengenalmu Suri daripada Intan. Mulai sekarang namamu Intan Suri,” jelas Datuk Buta itu.

”Tapi, kenapa Datuk masih hidup? Bukankah Datuk telah dibunuh Pendekar Katung?” tanya Suri penasaran.
”Panjang ceritanya, Nak! Nanti Ayah ceritakan semua setelah Pendekar Katung yang biadab itu mati,” jawab Datuk Buta.
Suri pun merasa yakin, kalau Datuk Buta itu adalah ayahnya. Ia pun segera memeluknya. Sang Ayah pun membalas pelukan putrinya yang sudah lama ia rindukan.

”Maafkan Ayah, Nak! Ayah sangat menyesal, karena membuat hidupmu sengsara,” kata Datuk Buta itu sambil meneteskan air mata.
”Tidak apa-apa, Ayah! Yang penting sekarang kita sudah berkumpul kembali,” jawab Suri yang kini memanggil Ayah kepada Datuk Buta itu.
”Baiklah, Nak! Sekarang mari kita mengatur siasat bagaimana cara menyingkirkan Pendekar Katung dari muka bumi ini!” seru Ayah Suri.
”Tapi, Ayah! Pendekar Katung itu sangat sakti. Ia kebal terhadap segala senjata tajam,” kata Suri dengan perasaan khawatir.
”Tidak perlu khawatir, Nak! Ayah tahu kelemahannya,” jawab Ayahnya dengan penuh keyakinan.

Suri dan Ayahnya serta Bujang Kelana pun bermusyawarah untuk mengatur siasat bagaimana membinasakan Pendekar Katung. Pertama-tama mereka bermufakat untuk mengganti ayam jago Pendekar Katung dengan ayam milik Ayah Suri yang mirip sekali dengan ayam jago Pendekar Katung. Setelah itu, mereka akan menantang Pendekar Katung untuk menggelar sabung ayam yang diwakili oleh Bujang Kelana. Kini penantang Pendekar Katung bukan lagi penduduk Negeri Serimba, melainkan seorang pemuda dari sebuah negeri nun jauh di sana. Pelaksanaan pagelaran akbar itu pun diumumkan di berbagai tempat. Seluruh penduduk Serimba maupun negeri-negeri di sekitarnya sudah mengetahui pagelaran akbar itu.





Pagelaran akbar yang ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai pun tiba. Seluruh penduduk Negeri Serimba dan negeri-negeri sekitarnya telah berkumpul ingin menyaksikan pertarungan yang mendebarkan itu. Beberapa saat kemudian, pertarungan pun dimulai. Tampak Tim Yuri duduk di pinggir lapangan menyaksikan dengan seksama untuk memberikan penilaian.

Pada awalnya, pertandingan itu tampak seimbang. Ayam jago Pendekar Katung yang sebetulnya hanyalah ayam jago biasa mampu memberikan perlawanan. Namun, karena ayam jago Bujang Kelana adalah ayam jago Pendekar Katung yang terkenal ganas dan gesit itu, maka hanya dalam hitungan menit saja, ayam jago Pendekar Katung mulai terdesak dan akhirnya mati tidak berdaya.

Pendekar Katung yang menyaksikan pertarungan itu sangat terkejut melihat kejadian itu. Ia sangat malu, karena yang menyaksikan pertarungan tersebut tidak hanya penduduk Negeri Serimba, tetapi juga dari negeri-negeri lain.”Ah, mustahil ayam jagoku mati!” seru Pendekar Katung mulai kesal.

Oleh karena tidak terima ayam jagonya kalah, Pendekar Katung mulai naik pitam. Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawal setianya untuk mengusir Bujang Kelana. Mengetahui dirinya terancam, Bujang Kelana pun segera melarikan diri ke Pantai Solop untuk menemui Datuk Buta dan Suri yang sengaja tidak hadir menyaksikan pertarungan itu.

”Pengawal! Ayo kita kejar pemuda brengsek itu!” perintah Pendekar Katung.
Pendekar Katung beserta puluhan pengawalnya mengejar Bujang Kelana sampai ke Pantai Solop. Di pantai berpasir putih itu Bujang Kelana terdesak. Belum sempat menemui Datuk Buta, tiba-tiba ia sudah diserang oleh beberapa pengawal Pendekar Katung. Bujang Kelana pun tidak mau mengalah begitu saja. Pantang menyerah sebelum ajal tiba, tekadnya.

Bujang Kelana melakukan perlawanan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Awalnya, ia mampu menghindari serangan yang datang bertubi-tubi kepadanya. Namun, karena dikeroyok oleh beberapa orang, ia pun mulai terdesak. Tidak dapat dielakkan lagi, seorang pengawal Pendekar Katung menusukkan tombaknya. Untung tombak itu hanya mengoyak paha Bujang Kelana.

Pada saat yang bersamaan, dengan secepat kilat, Datuk Buta melompat dari balik semak-semak langsung mencekik leher Pendekar Katung dari belakang. Pendekar Katung pun meronta-ronta dan berusaha untuk melepaskan diri. Namun, cekikan Datuk Buta sangat kuat, sehingga ia tidak dapat bergerak.
”Bujang Kelana! Cepat tusukkan senjatamu ke perut Pendekar Katung!” teriak Datuk Buta.

Bujang Kelana tidak dapat langsung menusukkan senjatanya kepada Pendekar Katung, karena ia masih kewalahan menahan serangan dari para pengawal Pendekar Katung yang datang bertubi-tubi.
”Cepat, Kelana! Tubuh Pendekar Katung akan tembus ditusuk senjata jika ia dipeluk oleh orang buta,” teriak lagi Datuk Buta.

Mengetahui kelemahan Pendekar Katung itu, Bujang Kelana segera mengadakan perlawanan. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia berbalik menyerang. Setelah para pengawal Pendekar Katung terdesak, dan bahkan sebagian lari tunggang-langgang menuju ke semak-belukar, dengan secepat kilat Bujang Kelana segera menusukkan senjatanya bertubi-tubi ke bagian perut dan dada Pendekar Katung. Seketika itu pula, Pendekar Katung langsung lemas tidak berdaya. Datuk Buta pun segera menghempaskan tubuh Pendekar Katung ke atas pasir.

”Hei, Katung! Kamu tahu siapa aku. Aku adalah Ayah Suri yang pernah kamu bunuh dan buang di tengah hutan. Tapi karena umurku masih dipanjangkan oleh Yang Kuasa, aku masih bisa hidup hingga sekarang,” ujar Datuk Buta.

”Gurumulah yang telah menyelamatkanku. Beliau juga yang telah memberitahukan kepadaku tentang kelemahanmu,” tambah Datuk Buta.
Pendekar Katung yang sudah sekarat itu tidak dapat memberikan jawaban sedikit pun. Beberapa saat kemudian, Pendekar Katung pun mengembuskan nafas terakhirnya. Melihat tuannya mati, beberapa pengawalnya yang masih tersisa langsung melarikan diri.

”Terima kasih, Kelana, karena telah membantuku menyingkirkan Pendekar Katung. Mari kita temui Intan Suri!” ajak Datuk Buta.
Namun, baru akan beranjak dari tempat mereka, tiba-tiba Intan Suri keluar dari balik semak-semak dengan berlumuran darah.

”Suri, apa yang terjadi denganmu?” tanya Bujang Kelana panik.
”Seorang pengawal Pendekar Katung mengetahui tempat persembunyianku di balik semak-semak itu. Ia hendak membunuhku, karena mengetahui aku yang telah menukar ayam jago tuannya,” jelas Suri dengan nada lemas.

”Bang Bujang! Maafkan Suri, Bang! Suri mencintai Abang, tapi mungkin kita tidak ditakdirkan hidup bersama,” sambung Suri meneteskan air mata.
”Jangan berkata begitu, Dik! Kita pasti akan hidup bersama, karena Abang juga sangat mencintai Adik,” ungkap Bujang Kelana dengan sedih.
”Bang, tolong jaga negeri dan penduduk Serimba serta Pantai Solop ini agar tetap aman dan damai,” pesan Suri terbatuk-batuk.

Beberapa saat kemudian, denyut nadi Intan Suri berhenti berdetak. Rupanya pesan itu merupakan pesan terakhir Intan Suri sebelum mengembuskan nafas terakhirnya. Mengetahui kekasihnya telah meninggal dunia, Bujang Kelana berteriak dengan sekeras-kerasnya.
”Intan Suriiiiiii.....!!!”
Usai berteriak, Bujang Kelana terdiam kaku dengan air mata berlinang memandang wajah kekasihnya yang cantik jelita itu.
”Sudahlah, Nak Kelana! Aku juga sangat sedih ditinggal oleh putri semata wayangku. Aku merasa sangat berdosa, karena tidak dapat menjaganya dengan baik,” ucap Datuk Buta dengan penuh penyesalan.
”Sebaiknya jenazah Intan Suri kita bawa ke pondokku yang berada di di tengah hutan ini!” ujar Datuk Buta.

Usai menyiapkan segala sesuatunya, mereka pun segera menguburkan jenazah Intan Suri di dekat pondok Datuk Buta.
”Datuk! Kelana juga akan pergi dari negeri ini sebagaimana Intan Suri telah pergi untuk selama-lamanya,” ujar Bujang Kelana kepada Datuk Buta.
Setelah berkata begitu, Bujang Kelana mengambil sangkar ayam yang terletak di samping pondok Datuk Buta. Kemudian ia bergegas menuju ke Pantai Solop. Sesampai di pantai, dengan sekuat tenaga ia melemparkan sangkar ayam itu ke tengah laut.

”Aku bersumpah, walaupun sangkar ayam itu akan menjadi pulau, aku tidak akan kembali ke negeri ini!” teriak Bujang Kelana bersumpah.
Setelah itu, Bujang Kelana pun meninggalkan Pantai Solop yang indah itu. Ia pergi berkelana mengikuti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan. Ia tidak ingin tinggal di Pantai Solop, karena takut teringat dengan kekasihnya yang telah pergi untuk selama-lamanya.
Konon, setelah bertahun-tahun Bujang Kelana meninggalkan Pantai Solop, sangkar ayam yang dilemparkan ke tengah laut itu benar-benar menjelma menjadi sebuah pulau. Pulau itu berada tepat berhadapan dengan Pantai Solop. Oleh masyarakat setempat, pulau itu mereka beri nama Pulau Sangkar Ayam.



LEGENDA BATU RANTAI, TEMASIK DILANDA TODAK


Berdasarkan catatan sejarah, negara Singapura dulunya bernama negeri Temasik. Istilah “Temasik” ini diambil dari bahasa Jawa Kuna tumasik yang berarti menyerupai laut, sedangkan dalam bahasa Melayu berarti hutan rawa. Negeri ini dinamakan Temasik karena berada di tepi laut yang dihuni oleh nelayan Bumiputera (suku-bangsa Melayu). Menurut sebuah legenda, pada awalnya nelayan Bumiputra hidup tenteram, damai, dan makmur. Namun, sejak diperintah oleh seorang raja yang sangat kejam dan angkuh, maka rakyat Bumiputera menjadi resah dan menderita. Karena kekejaman dan keangkuhan raja itu pulalah, negeri Temasik dilanda malapetaka yang sangat dahsyat. Suatu hari, negeri Temasik diserang oleh ikan Todak yang sangat ganas, sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban dari nelayan Bumiputra yang hidup di tepi laut. Kemudian negeri Temasik ini diselamatkan oleh seorang anak kecil bernama si Kabil. Legenda ini masih berkembang di kalangan masyarakat Singapura yang dikenal dengan Legenda Batu Rantai: Temasik Dilanda Todak.

Tersebutlah dalam sebuah kisah beberapa abad lalu, negeri Temasik diperintah oleh Paduka Seri Maharaja, seorang Raja yang terkenal sangat kejam dan angkuh. Suatu ketika, Raja itu tega menghukum mati seorang ulama yang juga sebagai pedagang dari Pasai bernama Tun Jana Khatib. Sebenarnya, ulama itu tidak bersalah, ia secara tidak sengaja berpandangan mata dengan permasuri Raja. Namun, sang Raja yang melihat kejadian itu menjadi murka. Tak ada yang bisa mencegahnya untuk menjatuhkan hukuman itu. Sang Raja pun segera memerintahkan pengawal istana untuk menangkap dan menghukum mati sang Ulama.
Namun, sebelum hukuman mati itu dilaksanakan, sang Ulama berpesan kepada penduduk Temasik. "Wahai kalian penduduk Temasik! Ketahuilah! Aku rela dengan kematian ini! Tetapi raja yang zalim itu tak akan lepas begitu saja. Dia akan membayar harga atas kezaliman itu...Dan percayalah di negeri ini akan terjadi huru-hara! Negeri ini akan ditimpa malapetaka yang sangat dahsyat....!!!". Selesai menyampaikan pesan, sang Ulama pun dihukum mati. Dadanya ditusuk sebila keris oleh pengawal istana hingga tersungkur tak berdaya. Sesaat setelah sang Ulama dihukum, terjadilah sebuah peristiwa gaib. Pada saat jenazah sang Ulama dibawa ke pemakaman, tiba-tiba mayatnya menghilang. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba petir menyambar dan menggemparkan negeri Temasik, lalu disusul dentuman suara keras. Penduduk Temasik kemudian berlari menyelamatkan diri dan pergi ke tempat di mana sang Ulama dihukum. Suasana Temasik semakin gempar setelah penduduk menemukan bekas darah sang Ulama di tempat kejadian itu berubah menjadi batu.
Peristiwa gaib di atas adalah pertanda akan datangnya malapetaka dahsyat di negeri Temasik. Pada suatu hari, tiba-tiba Temasik diserang beribu-ribu ikan Todak. Gerombolan ikan yang berparuh panjang, runcing, dan tajam itu menyerang penduduk sampai ke pelosok desa di sekitar pantai. Penduduk berlarian menghindari serangan ikan itu. Namun, musibah tak terelakkan lagi, banyak penduduk bergelimpangan secara mengerikan. Tak lama kemudian, kabar peristiwa ini pun sampai di telinga sang Raja. Dengan cepat, sang Raja pun segera memerintahkan pengawal istana menyediakan seekor gajah tunggangan untuk pergi ke tempat kejadian. Sesampainya di pantai, sang Raja menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan. Sang Raja kemudian memerintahkan pengawal istana dan penduduk agar membuat pagar betis. Namun upaya itu justru membuat ikan Todak tersebut kian mengganas. Hari demi hari, penduduk yang mati dan luka-luka diserang ikan Todak tersebut semakin bertambah. Penduduk yang terluka itu, merintih dan mengerang kesakitan siang dan malam.

Meskipun banyak penduduk yang menjadi korban keganasan ikan Todak tersebut, namun tak seorang pun yang berani meninggalkan negeri itu tanpa titah sang Raja. Penduduk tetap berdiri mematuhi titah raja untuk membuat pagar betis. Rintihan penduduk yang menahan sakit tidak dihiraukan sang Raja yang sangat kejam itu. Sang Raja justru diam-diam bermaksud meninggalkan negeri Temasik untuk bersembunyi. Pada saat sang Raja sedang berlari bersembunyi, ia diserang oleh seekor ikan Todak. Ia berusaha menghindar, namun baju sang Raja tersambar paruh ikan Todak. Sang Raja amat cemas dan menggigil ketakutan. “Tolooong...! Tolooong...! Bajuku robek!” jerit sang Raja ketakutan. Tetapi, jeritan tersebut tak ada yang menghiraukan. Tak seorang pun menghampiri sang Raja untuk menolongnya.

Dalam keadaan panik, tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki kecil menghampiri sang Raja. “Percuma saja Temasik dipagar betis dengan manusia, sampai habis penduduk Temasik ini, serangan ikan Todak tidak dapat dikalahkan,” kata anak kecil itu mengingatkan. Mendengar suara anak kecil yang datang tiba-tiba itu, sang Raja segera bertanya: “Hei, budak! Siapakah engkau ini, dari mana asalmu hingga beraninya engkau menasihatiku?” tanya sang Raja dengan nada kesal.
Dengan santun, anak kecil itu menjelaskan dirinya: “Ampun, wahai Baginda Raja, hamba bernama Kabil. Hamba datang dari Bintan Penaungan,” jelas Kabil seraya menyembah. “Hamba hidup di pinggir laut, dan hamba mengenal sifat ikan Todak. Ikan Todak tidak dapat dilumpuhkan dengan betis manusia, melainkan dengan batang pisang. Apabila Sang Raja mengizinkan, hamba mohon agar Temasik dipagari dengan batang pisang,” kata Kabil setengah memohon.

“Batang pisang? Untuk Apa?,” tanya sang Raja dengan heran. “Jika kita menggunakan batang pisang sebagai perisai di sepanjang pantai, maka paruh ikan Todak itu akan tertancap pada batang pisang. Pada saat itulah, para penduduk menggunakan kesempatan untuk membunuh ikan-ikan Todak itu,” jelas Kabil pada sang Raja. Tanpa berpikir panjang, sang Raja bertitah kepada panglima dan rakyatnya, “Wahai sekalian panglima dan rakyatku sekalian, angkutlah batang pisang sebanyak-banyaknya, lalu pagari negeri kita ini dengan batang pisang!” Mendengar titah sang Raja, seluruh panglima dan penduduk yang ada di tempat kejadian itu segera mencari batang pisang ke kebun-kebun pisang. Setelah mendapat banyak batang pisang, mereka pun membawanya ke pantai. Tak lama kemudian Temasik berubah menjadi negeri berpagar batang pisang. Ikan-ikan Todak yang sedang mengamuk itu tersangkut di batang pisang, sehingga menggelepar-gelepar tak berdaya.  Penduduk pun dengan mudah membunuhnya dan kemudian mengambilnya untuk dimakan dagingnya.
Rakyat negeri Temasik pun bersuka ria, karena terlepas dari malapetaka. Sebagai tanda berakhirnya kesedihan itu, maka dibuatlah pantun ikan Todak:
Temasik dilanggar Todak
Todak melanggar batang pisang
Orang tua berperangai budak
Seperti aur ditarik sungsang

Namun, di tengah suasana gembira tersebut, para pembesar istana justru berpikir lain. Mereka menjadi cemas dan takut kalau anak kecil itu akan merampas negeri Temasik. Merasa terancam, para pembesar istana menghadap sang Raja. “Ampun, Baginda Raja! Jika si Kabil tidak kita singkirkan, tidak mustahil suatu hari anak itu akan menguasai kita dan akan merampas negeri Temasik ini,” kata salah satu pembesar istana mempengaruhi. “Benar Baginda, selagi kecil dia sudah pintar, hingga sanggup mengalahkan ikan Todak, apalagi sudah besar kelak,” tambah pembesar istana yang lainnya. “Aku setuju, tapi kalian harus ingat, si Kabil ini anak pintar. Jika kita tidak membuanganya jauh-jauh, dia pasti akan kembali lagi ke negeri ini. Maka sebaiknya masukkan saja anak itu ke dalam kurungan baja, lilitkan dengan rantai besi, lalu tenggelamkan di tengah laut,” titah sang Raja kepada pembesar istana tersebut.

Keesokan harinya, Kabil pun ditangkap, kemudian dimasukkan ke dalam kurungan baja, dikunci dan diikat dengan rantai besi, lalu dinaikan ke atas perahu. Dengan dikawal sang Raja dan beberapa pengawal istana, berangkatlah mereka ke perairan Pulau Segantang Lada, tempat dimana Kabil akan ditenggelamkan. Tak berapa lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. “Ampun Baginda Raja! Kita sudah sampai di Perairan Pulau Segantang Lada!” lapor seorang pengawal kepada Raja. “Tenggelamkan anak kecil itu!” perintah sang Raja. Namun, sebelum ditenggelamkan, Kabil bertanya kepada sang Raja. “Beginikah balasan Baginda Raja kepada hamba? Tidakkah ada jalan lain yang lebih baik untuk menghindari kematian ini? “Baginda Raja.....hamba belum rela mati muda,” ratap Kabil dari dalam kurungan.
Sang Raja hanya bergeming mendengar ratapan Kabil. Setelah itu diperintahkannya pengawal istana untuk segera menenggelamkan kurungan yang berisi Kabil itu. “Byuuurr....byuuurr....byuuur....” terdengar bunyi suara air ketika kurungan diceburkan ke dalam laut di karang Kepala Sambu. Tak lama kemudian, Kabil pun mati dalam keadaan yang mengenaskan, setelah ia baru saja berjasa menyelamatkan nyawa penduduk negeri Temasik.

Sejak peristiwa mengenaskan itu, sampai saat ini, suara pusar arus mendesah, “Byuuurr ... sssh ... byuuur ....”, seolah menyimpan perasaan sedih yang menyayat. Ombak yang bertemu arus pasang sangatlah ganas, seperti orang yang meronta-ronta. Oleh karena itu, para pelaut dan nahkoda kapal yang melintasi gugusan pulau tersebut selalu menghindari karang berbahaya di perairan Sambu ini untuk menjaga keselamatan penumpangnya. Peninggalan Legenda Batu Rantai ini berada di antara gugusan Pulau Sambu dan Batam, di perairan Riau, Indonesia.

 BY: PUTRA PERDANA


PENGHULU TIGA LORONG (INDRAGIRI)


Peranap adalah salah satu kecamatan di Indragiri Hulu, Riau, Indonesia. Kecamatan ini juga terkenal dengan sebutan Luhak Tiga Lorong. Disebut demikian, karena pada masa kerajaan Indragiri yang berkedudukan di Pekan Tua, Raja Indragiri yang ke-16, Raja Hasan bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 M.), mengangkat tiga orang bersaudara menjadi Penghulu di tiga wilayah di Indragiri Hulu. Ketiga orang bersaudara tersebut diangkat menjadi Penghulu, karena mereka berhasil menumpas kesewenang-wenangan Datuk Dobalang yang berkuasa di negeri Sibuai Tinggi yang masih wilayah Kerajaan Indragiri. Untuk mengetahui kisah bagaimana Tiga Bersaudara tersebut mengalahkan Datuk Dobalang, ikuti kisahnya dalam Penghulu Tiga Lorong.  

Pada zaman dahulu, ketika ibukota Kerajaan Indragiri berada di Pekan Tua, tersebutlah tiga orang bersaudara bernama Tiala, Sabila Jati, dan Jo Mahkota. Ketiganya pandai, gagah perkasa dan menguasai ilmu bela diri. Mereka mahir menggunakan senjata, lincah mengelak serangan lawan, gesit menyerang, dan cerdik pula berkelit. Mereka hidup rukun dan saling membantu dalam segala hal di suatu tempat bernama Batu Jangko.
Pada suatu hari, mereka pergi untuk mencari tempat yang lebih baik, yang tanahnya subur, airnya jernih, ikannya jinak, dan udaranya segar. Dari satu tempat ke tempat lain, Tiga Bersaudara ini akhirnya tiba di Koto Siambul dan memutuskan untuk menetap di tempat tersebut.
Sementara itu, di istana, Raja Indragiri sangat resah, karena Datuk Dobalang yang berkuasa di Negeri Sibuai Tinggi bertindak semena-mena. Dia suka berjudi, menyabung ayam, bermabuk-mabukan, dan memperlakukan rakyatnya dengan kejam. Raja Indragiri sudah muak dengan tingkah laku Datuk Dobalang. Sang Raja kemudian memerintahkan Duli Yang Dipertuan Besar Indragiri untuk memanggil Tiga Bersaudara yang dikabarkan berada di Koto Siambul. Sang Raja sudah mengetahui tentang kehebatan Tiga Bersaudara tersebut.

Duli Yang Dipertuan Besar Indragiri segera melaksanakan perintah Raja. Dia memudiki sungai, hingga akhirnya tiba di Koto Siambul dan bertemu dengan Tiga Bersaudara yatiu Tiala, Sabila, Jati, dan Jo Mahkota. “Wahai anak muda, Baginda Raja meminta kalian menghadap ke istana di Pekan Tua,” sapa sang Duli kepada Tiga Bersaudara. Karena permintaan Raja, mereka tidak bisa menolak. Mereka pun berangkat ke istana menghadap sang Raja.
Sesampai di hadapan Raja, mereka pun memberi hormat, “Ampun, Baginda! Apa gerangan Baginda Raja memanggil kami,” tanya ketiga bersaudara serentak. Sang Raja menjawab, “Begini saudara-saudara, kami bermaksud meminta bantuan kalian untuk menaklukkan Datuk Dobalang yang telah bertindak semena-mena di Negeri Sibuai Tinggi.” Mendengar jawaban sang Raja, mereka pun menyanggupi permintaan sang Raja.
Sebagai bekal, masing-masing mengajukan perlengkapan yang diperlukan. Tiala meminta seekor ayam sabung betina dan dua buah keris bersarung emas buatan Majapahit. Sabila Jati meminta pedang Jawi yang hulunya bertatahkan intan dengan tulisan “Muhammad”. Jo Mahkota meminta lembing dengan sarung emas dan suasa.

Setelah Raja memenuhi semua perlengkapan yang diminta, berangkatlah ketiga bersaudara tersebut ke Sibuai Tinggi dengan sebuah perahu yang dikayuh oleh 12 orang. Setiba di Sibuai Tinggi, mereka langsung ditemui oleh Datuk Dobalang dan ditantang untuk bersabung ayam. Ketiga bersaudara pun bertanya kepada Datuk Dobalang, “Maaf, Datuk! Apa pantang larangnya? Datuk Dobalang menjawab, “Ada empat pantang larang yang harus dipatuhi dalam pertandingan, yaitu:
Pertama, dilarang bersorak dan bertepuk tangan.
Kedua, dilarang memekik dan menghentak tanah.
Ketiga, dilarang menyingsingkan lengan baju.
Keempat, dilarang memutar keris ke depan.
“Siapa yang melanggar peraturan tersebut dianggap kalah,” tegas Datuk Dobalang dengan pongahnya.

Kemudian ketiga bersaudara bertanya lagi, “Berapa taruhannya Datuk?” Datuk Dobalang menjawab, “Tanah Inuman di kiri Sungai Indragiri, yang lebar dan panjangnya sejauh mata memandang dari gelanggang Sibuai Tinggi.” Mendengar begitu luasnya tanah yang dipertaruhkan Datuk Dobalang, ketiga bersaudara diam sejenak. Mereka berpikir bagaimana cara mengimbangi besarnya taruhan yang ditetapkan oleh Datuk Dobalang. Karena kecerdikan mereka, dengan percaya diri mereka pun berujar serentak, “Kami memberikan taruhan tanah Koto Siambul di kiri Sungai Indragiri, lebar dan panjangnya sehabis mata memandang dari gelanggang Sibuai Tinggi,” Sesungguhnya mereka tidak mempertaruhkan apa-apa, sebab Koto Siambul tidak dapat dilihat dari Sibuai Tinggi. Namun, Datuk Dobalang menerima taruhan itu tanpa menyadari kebodohannya.

Setelah kedua belah pihak menetapkan taruhan, saatnya menentukan hari pelaksanaan pertandingan sabung ayam. “Hai anak muda, kapan kita laksanakan pertandingan itu,” tanya Datuk Dobalang. “Terserah tuanku,” jawab ketiga bersaudara serentak. “Kalau begitu, kita laksanakan tiga hari lagi, sebab kami harus mengumpulkan para penduduk di gelanggang,” ujar Datuk Dobalang.

Saat yang dinanti-nanti pun tiba. Pada hari ketiga, pertandingan Sabung ayam itu pun segera dilaksanakan. Semua penduduk berkumpul di gelanggang Sibuai Tinggi untuk menyaksikan pertarungan itu. Sesaat sebelum pertandingan dimulai, suasana gelanggang menjadi hening. Datuk Dubalang melepas ayam jagonya, sedangkan tiga bersaudara melepas ayam betinanya. Beradulah kedua ayam tersebut dengan seru. Baru beberapa saat pertandingan berlangsung, tiba-tiba ayam betina Tiga Bersaudara terkena kelepau (serangan) hingga sayapnya patah. Datuk Dobalang sangat gembira hingga bersorak, bahkan memekik dan menghentak tanah. Tanpa ia sadari, semua aturan yang dibuatnya, dilanggarnya sendiri.

Berkali-kali Tiga Bersaudara mengingatkan Datuk Dobalang bahwa dia telah melanggar peraturan, dan siapa pun yang melanggar peraturan harus dianggap kalah. Namun, Datuk Dobalang tidak peduli. Kesabaran itu ada batasnya. Tiga bersaudara tidak tahan lagi melihat tingkah si Datuk angkuh itu, sehingga kesabaran mereka pun habis. Sambil bersiap mengantisipasi serangan Dato Dobalang, mereka melantunkan sebuah gurindam:
“Penat mau bergalah coba-coba mengalas
Penat hendak mengalah dicoba membalas”

Ternyata benar. Baru saja gurindam itu lepas dari mulut Tiga Bersaudara, tiba-tiba Datu Dobalang menyerang mereka dengan kerisnya. Tiga Bersaudara sudah siap, sehingga dengan mudah mereka mengelak dan balas menyerang Datuk Dobalang. Serang-menyerang berlangsung dengan seru. Pekikan dan bentakan bersahut-sahutan. Berkali-kali Datuk Dobalang mengayunkan kerisnya ke arah Tiga Bersaudara, berkali-kali pula Datuk Dobalang memekik geram karena serangannya dapat dielakkan oleh Tiga Bersaudara.

Suasana di gelanggan semakin gaduh. Penduduk yang ada digelanggan itu hanya terperangah menyaksikan sengitnya perkelahian antara Datuk Dobalang dengan Tiga Bersaudara. Mereka menyaksikan sendiri Tiga Bersaudara berkali-kali berkelit mengelakkan tikaman Datuk Dobalang. Melihat serangannya selalu dipatahkan oleh Tiga Bersaudara, dengan menggeram macam singa lapar, Datuk Dobalang menyerang Tiga Bersaudara. Karena ia dalam keadaan emosi, ia tidak dapat mengendalikan serangannya dengan baik, sehingga tampak serangannya membabi buta. Tentu saja kelengahan itu tidak disia-siakan oleh Tiga Bersaudara. Dengan secepat kilat, Ketiga Bersaudara tersebut mengeluarkan senjata masing-masing yang mereka minta dari Raja Indragiri. Akhirnya, pusaka-pusaka sakti tersebut membuat Datu Dobalang tewas jatuh tersungkur ke tanah.

Penduduk yang hadir di gelanggang itu segera mengerumuni mayat yang tergeletak itu. Mereka ingin memastikan apakah Datuk Dobalang benar-benar sudah mati. Dari kerumanan itu, sesekali terdengar decak kagum atau geleng kepala takjub akan keberhasilan Tiga Bersaudara mengalahkan orang yang paling ditakuti di Negeri Sibuai Tinggi. Penduduk Sibuai Tinggi bergembira ria, sebab mereka sudah bisa mencari nafkah sehari-hari tanpa dihantui rasa takut.


Selanjutnya, Tiga Bersaudara memasukkan jasad Datuk Dobalang ke dalam peti dan segera membawanya ke hadapan Raja Indragiri. Sang Raja sangat gembira melihat keberhasilan Tiga Bersaudara mengalahkan Datuk Dobalang. Atas jasa-jasanya itu, sang Raja meminta kepada Tiga Bersaudara menyebutkan hadiah yang mereka inginkan. “Wahai pahlawanku, hadiah apa yang kalian inginkan?” seru sang Raja menawarkan. Tiga bersaudara tidak mengharapkan uang, emas, ataupun harta benda yang lain. “Kami hanya meminta sesuatu yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk karena hujan seumur hidup,” kata Tiala mewakili saudara-saudaranya.

Sang Raja tidak mengerti apa maksud perkataan Tiala itu. Sang Raja pun mengumpulkan para menteri dan orang-orang tua yang bijak untuk mengadakan rapat tentang permintaan Tiga Bersaudara tersebut. Selama delapan hari mereka berpikir keras untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh Tiga Bersaudara tersebut. Atas petunjuk Tuhan, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa yang diinginkan Tiga Bersaudara adalah pangkat.

Ketiga Bersaudara tersebut kemudian diangkat menjadi Penghulu Tiga Lorong. Tiala diangkat menjadi Lelo Diraja, Penghulu Baturijal Hilir lawan Sungai Indragiri dengan bendera berwarna putih. Sabila Jati diangkat menjadi Dana Lelo Penghulu Pematang lawan Batanghari, dengan bendera berwarna hitam. Adapun Jo Mahkota diangkat menjadi Penghulu Baturijal Hulu dengan anugerah dua bendera, yaitu bendera merah dari Raja Indragiri dan bendera hitam dari Raja Kuantan.

Atas anugerah pangkat yang mereka terima, Penghulu Tiga Lorong bersumpah,
Tiada boleh akal buruk,
Budi merangkak,
Menggunting dalam lipatan,
Memakan darah di dalam,
Makan sumpah 1000 siang 1000 malam.
Ke atas dak bapucuk,
Ke bawah dak baurat,
Dikutuk kitab Al-Qur‘an 30 juz.

Tiga Bersaudara selanjutnya menerima hadiah tanah Tiga Lorong yang tanahnya subur, udaranya sejuk, airnya jernih, rumputnya segar, serta ikannya jinak. Mereka membangun wilayah Tiga Lorong sehingga hasil pertaniannya berlimpah, jalan-jalan dan bangunannya tertata rapi, perniagaannya maju, serta keseniannya berkembang pesat. Rakyat yang terdiri dari berbagai suku hidup rukun, saling menghargai, serta menjalankan syariat agama dengan taat.

Sejak peristiwa di atas, ketiga orang bersaudara tersebut berusaha memajukan rakyat Tiga Lorong (sekarang dikenal Kecamatan Peranap). Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Isjoni Ishak dan Mira Dewi Minrasih, ada beberapa usaha yang telah mereka lakukan dalam memajukan masyarakat Baturijal khususnya, dan Tiga Lorong umumnya, antara lain:

1.      Menyatukan rakyat yang bermacam-macam suku bangsa melalui pendekatan sosial
2.      Meningkatkan perekonomian rakyat melalui bidang pertanian, perkebunan dan perikanan.
3.      Menanamkan sifat solidaritas kepada masyarakat Tiga Lorong. Dalam hal ini, mereka tidak mau ikut campur dalam pelaksanaan adat-istiadat masyarakat yang berlainan tersebut.
4.      Menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang berpedoman kepada Alquran bagi masyarakat Tiga Lorong.

Usaha-usaha yang telah mereka lakukan tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat desa Tiga Lorong. Hal ini terbukti dengan meningkatnya ekonomi masyarakat. Selain itu, masyarakat Tiga Lorong sangat taat terhadap ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rasulullah.

Cerita Penghulu Tiga Lorong ini kiranya dapat dijadikan sebagai suri tauladan untuk menciptakan negara yang damai, sejahtera dan makmur. Penguasa yang zalim terhadap rakyat harus dilenyapkan dari muka bumi.








KAWAL DAN SI JANGOI : ASAL MULA PULAU SI JANGOI

Pada zaman dahulu, Negeri Riau sangat makmur dengan bandar-bandar yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negeri. Negeri itu mempunyai hulubalang-hulubalang yang berani dan gagah perkasa. Selain itu, juga memiliki panglima yang sangat sakti, Panglima Kawal namanya.

Kemakmuran dan kesejahteraan Ne­geri Riau sangat terkenal. Banyak sudah lanun yang ber­usaha untuk menguasai negeri itu. Namun, berkat ketangkasan Pang­lima Kawal dan para hulubalangnya, negeri Riau selalu dapat diselamatkan.

Pada suatu hari, pelabuhan Riau begitu ramai dengan pedagang yang baru tiba dari negeri-negeri jauh. Para  kuli sibuk mengangkat barang dagangan yang diturunkan dari kapal. Di antara kesibukan tersebut, tiba-tiba terdengar letusan meriam beberapa kali sebagai tanda datangnya satu kelompok kapal asing. Mendengar bunyi meriam tersebut, beberapa hulubalang segera merapatkan perahu mereka ke kapal-kapal pendatang tersebut.

“Selamat datang di negeri kami. Jika boleh kami tahu, dari mana dan apa maksud kedatangan Tuan-tuan?” tanya Ketua Hulubalang.
“Hei, bodoh! Saya adalah Jangoi, pemimpin perampok yang ditakuti di Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatra!” jawab pemimpin rombongan itu dengan sombong. “Jika rakyat negeri ini ingin selamat, tunduklah padaku!” lanjutnya.

Ketua Hulubalang geram melihat ke­sombongan dan tingkah laku Jangoi dan anak buahnya yang kurang sopan. Tetapi dia masih mempunyai rasa santun.
“Tunggulah di sini, saya akan melapor­kan kedatangan kalian kepada panglima kami.”

Ketua Hulubalang segera meme­rintahkan anak buahnya untuk mengawasi orang-orang itu agar tidak membuat ke­kacauan, sementara dia menghadap Pang­lima Kawal. Mendengar laporan dari Ketua Hulubalang, Panglima Kawal segera me­merintahkan beberapa hulubalang un­tuk mempersiapkan pertahanan negeri.

“Siapkan perahu, aku ingin meng­adakan perundingan dengan orang asing itu!” perintah Panglima Kawal setelah per­tahanan negeri siap. Panglima Kawal adalah seorang panglima yang cinta damai. Dia memilih jalan perundingan sebelum terjadi peperangan. Dia tidak ingin rakyat sengsara akibat perang. Dengan diiringi beberapa hulubalang, Panglima Kawal menemui Jangoi di atas perahunya.

Walaupun sombong, saat bertemu dengan Panglima Kawal, si Jangoi ber­tingkah laku sopan. Dia segera meng­hidang­kan sirih lengkap dengan kapur dan pinangnya.

“Silakan, Tuan,” kata Jangoi mena­warkan sirih. Panglima Kawal tahu bahwa daun sirih yang dihidangkan adalah daun jelatang, maka dia menolaknya.
Melihat hal itu, tahulah Jangoi bah­wa Panglima Kawal tidak makan sirih, melainkan makan bakik. Maka, dikeluar­kannya tepak sirih yang berisi beberapa batang bakik. Jangoi sengaja menaruh paku beracun di dalam tepak sirih itu sebagai pengganti bakik.
Panglima Kawal segera mengambil bakik yang dihidangkan itu dan me­makannya.

“Mari, Tuan Jangoi,” Panglima Kawal menawari Jangoi untuk turut serta makan bakik itu.
Si Jangoi sangat heran. Dia terdiam beberapa saat. Melihat Jangoi heran, Panglima Kawal mengambil beberapa bakik dan dipatahkan menggunakan jari­nya. Jangoi terperangah.

“Bagi orang Riau, bakik seperti inilah pengganti sirih,” ujar Panglima Kawal tenang.
“Maafkan kami, Tuan. Kami menyerah kalah,” kata Jangoi. Dia mengakui tingginya ilmu orang-orang Riau dan membatalkan niatnya untuk menaklukkan Riau. 

Jangoi segera memerintahkan anak buahnya untuk meninggalkan Riau. Sebe­lum layar terkembang, Jangoi meng­ambil bakik seraya bersumpah, “Jika bakik ini tidak timbul, aku tidak akan datang ke tempat ini lagi.” Selesai berkata demikian, Jangoi melemparkan bakiknya ke laut lepas dan bakik itu tenggelam. Jangoi tidak memikirkan apa yang sudah diucapkan dan dilakukannya.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun berselang, Panglima Kawal meninggal dunia. Seluruh rakyat Riau bersedih kehilangan panglima terbaiknya. Kabar kematian Panglima Kawal segera tersebar dan terdengar oleh Jangoi. Jangoi amat gembira. Ia segera berangkat meng­guna­kan kapal besar untuk menaklukkan Riau.

“Inilah saatnya untuk menguasai ne­geri yang kaya itu. Kini tidak ada lagi yang akan menghalangi niatku,” gumam Jangoi. Menurutnya, jika Panglima Kawal telah meninggal, pastilah Negeri Riau menjadi lemah.

Sesampai kapal itu di perairan Riau, si Jangoi keluar ke anjungan. Saat kapal melepas jangkar di tempat dahulu Jangoi bersumpah, tiba-tiba dia terjatuh dan sakit. Para tabib yang didatangkan tak mampu menyembuhkannya. Jangoi segera ter­ingat sumpahnya dan menyesalinya. Sebe­lum meninggal, ia berpesan agar dikubur di tempat ia bersumpah. Beberapa saat kemudian, Jangoi meninggal dunia karena melanggar sumpahnya sendiri.

Anak buahnya kemudian menengge­lamkan mayat Jangoi di tempat ia ber­sumpah, yaitu di antara Pulau Penye­ngat dan Teluk Keriting. Beberapa saat setelah mayat Jangoi tenggelam, di tempat itu muncul sebuah pulau. Pulau itu kemudian diberi nama Pulau Si Jangoi atau Pulau Paku. Pulau itu masih ada dan dikenal hingga saat ini. 




PANGLIMA KAWAL DAN SI JANGOI : ASAL MULA PULAU SI JANGOI

Pada zaman dahulu, Negeri Riau sangat makmur dengan bandar-bandar yang ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negeri. Negeri itu mempunyai hulubalang-hulubalang yang berani dan gagah perkasa. Selain itu, juga memiliki panglima yang sangat sakti, Panglima Kawal namanya.

Kemakmuran dan kesejahteraan Ne­geri Riau sangat terkenal. Banyak sudah lanun yang ber­usaha untuk menguasai negeri itu. Namun, berkat ketangkasan Pang­lima Kawal dan para hulubalangnya, negeri Riau selalu dapat diselamatkan.

Pada suatu hari, pelabuhan Riau begitu ramai dengan pedagang yang baru tiba dari negeri-negeri jauh. Para  kuli sibuk mengangkat barang dagangan yang diturunkan dari kapal. Di antara kesibukan tersebut, tiba-tiba terdengar letusan meriam beberapa kali sebagai tanda datangnya satu kelompok kapal asing. Mendengar bunyi meriam tersebut, beberapa hulubalang segera merapatkan perahu mereka ke kapal-kapal pendatang tersebut.

“Selamat datang di negeri kami. Jika boleh kami tahu, dari mana dan apa maksud kedatangan Tuan-tuan?” tanya Ketua Hulubalang.
“Hei, bodoh! Saya adalah Jangoi, pemimpin perampok yang ditakuti di Kamboja, Serawak, Brunei, dan Sumatra!” jawab pemimpin rombongan itu dengan sombong. “Jika rakyat negeri ini ingin selamat, tunduklah padaku!” lanjutnya.

Ketua Hulubalang geram melihat ke­sombongan dan tingkah laku Jangoi dan anak buahnya yang kurang sopan. Tetapi dia masih mempunyai rasa santun.
“Tunggulah di sini, saya akan melapor­kan kedatangan kalian kepada panglima kami.”

Ketua Hulubalang segera meme­rintahkan anak buahnya untuk mengawasi orang-orang itu agar tidak membuat ke­kacauan, sementara dia menghadap Pang­lima Kawal. Mendengar laporan dari Ketua Hulubalang, Panglima Kawal segera me­merintahkan beberapa hulubalang un­tuk mempersiapkan pertahanan negeri.

“Siapkan perahu, aku ingin meng­adakan perundingan dengan orang asing itu!” perintah Panglima Kawal setelah per­tahanan negeri siap. Panglima Kawal adalah seorang panglima yang cinta damai. Dia memilih jalan perundingan sebelum terjadi peperangan. Dia tidak ingin rakyat sengsara akibat perang. Dengan diiringi beberapa hulubalang, Panglima Kawal menemui Jangoi di atas perahunya.
Walaupun sombong, saat bertemu dengan Panglima Kawal, si Jangoi ber­tingkah laku sopan. Dia segera meng­hidang­kan sirih lengkap dengan kapur dan pinangnya.
“Silakan, Tuan,” kata Jangoi mena­warkan sirih. Panglima Kawal tahu bahwa daun sirih yang dihidangkan adalah daun jelatang, maka dia menolaknya.
Melihat hal itu, tahulah Jangoi bah­wa Panglima Kawal tidak makan sirih, melainkan makan bakik. Maka, dikeluar­kannya tepak sirih yang berisi beberapa batang bakik. Jangoi sengaja menaruh paku beracun di dalam tepak sirih itu sebagai pengganti bakik.
Panglima Kawal segera mengambil bakik yang dihidangkan itu dan me­makannya.
“Mari, Tuan Jangoi,” Panglima Kawal menawari Jangoi untuk turut serta makan bakik itu.
Si Jangoi sangat heran. Dia terdiam beberapa saat. Melihat Jangoi heran, Panglima Kawal mengambil beberapa bakik dan dipatahkan menggunakan jari­nya. Jangoi terperangah.
“Bagi orang Riau, bakik seperti inilah pengganti sirih,” ujar Panglima Kawal tenang.
“Maafkan kami, Tuan. Kami menyerah kalah,” kata Jangoi. Dia mengakui tingginya ilmu orang-orang Riau dan membatalkan niatnya untuk menaklukkan Riau. 

Jangoi segera memerintahkan anak buahnya untuk meninggalkan Riau. Sebe­lum layar terkembang, Jangoi meng­ambil bakik seraya bersumpah, “Jika bakik ini tidak timbul, aku tidak akan datang ke tempat ini lagi.” Selesai berkata demikian, Jangoi melemparkan bakiknya ke laut lepas dan bakik itu tenggelam. Jangoi tidak memikirkan apa yang sudah diucapkan dan dilakukannya.

Waktu terus berlalu. Beberapa tahun berselang, Panglima Kawal meninggal dunia. Seluruh rakyat Riau bersedih kehilangan panglima terbaiknya. Kabar kematian Panglima Kawal segera tersebar dan terdengar oleh Jangoi. Jangoi amat gembira. Ia segera berangkat meng­guna­kan kapal besar untuk menaklukkan Riau.
“Inilah saatnya untuk menguasai ne­geri yang kaya itu. Kini tidak ada lagi yang akan menghalangi niatku,” gumam Jangoi. Menurutnya, jika Panglima Kawal telah meninggal, pastilah Negeri Riau menjadi lemah.
Sesampai kapal itu di perairan Riau, si Jangoi keluar ke anjungan. Saat kapal melepas jangkar di tempat dahulu Jangoi bersumpah, tiba-tiba dia terjatuh dan sakit. Para tabib yang didatangkan tak mampu menyembuhkannya. Jangoi segera ter­ingat sumpahnya dan menyesalinya. Sebe­lum meninggal, ia berpesan agar dikubur di tempat ia bersumpah. Beberapa saat kemudian, Jangoi meninggal dunia karena melanggar sumpahnya sendiri.

Anak buahnya kemudian menengge­lamkan mayat Jangoi di tempat ia ber­sumpah, yaitu di antara Pulau Penye­ngat dan Teluk Keriting. Beberapa saat setelah mayat Jangoi tenggelam, di tempat itu muncul sebuah pulau. Pulau itu kemudian diberi nama Pulau Si Jangoi atau Pulau Paku. Pulau itu masih ada dan dikenal hingga saat ini.





LEGENDA PUTRI MAMBANG LINAU

Riau adalah salah satu propinsi di Indonesia yang kaya dengan pelbagai jenis kesenian tradisional yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Riau. Pelbagai jenis kesenian tradisional tersebut adalah seni tari, seni musik, seni ukir, seni tenun, seni lukis, seni bela diri, dan teater rakyat. Di antara jenis kesenian tersebut, seni tari (tarian) merupakan jenis kesenian Melayu Riau yang paling menonjol. Seni tari atau tarian merupakan jenis seni gerak yang memiliki gerakan-gerakan khusus. Setiap daerah dan suku-bangsa mempunyai gerakan-gerakan tersendiri dalam memperagakan sebuah tarian. Dibalik gerakan-gerakan tersebut terdapat cerita-cerita yang menarik. Salah satu tari yang memiliki cerita menarik di Riau adalah tari Olang-olang. Tarian ini sangat digemari oleh puak Melayu Sakai di kabupaten Bengkalis, Riau. Mereka mempercayai bahwa tarian ini lahir dari sebuah cerita legenda yang mengisahkan pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis jelita dari kayangan yang sangat gemulai menari, lalu keduanya bercinta kasih. Namun, jalinan kasih mereka putus, karena si gadis melanggar pantangan yang telah mereka buat. Pantangan apa yang dilanggar gadis itu? Bagaimana kisah pertemuan mereka hingga akhirnya berpisah? Ikuti kisahnya dalam Legenda Putri Mambang Linau.
Alkisah, di tanah Bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Ia hidup miskin dan sebatang kara, tak berayah, tak beribu, tak juga bersaudara. Namun, ia adalah pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari-harinya mencari kayu api di dalam hutan, yang kemudian dijualnya ke pasar atau ditukarkannya dengan beras dan keperluan hidupnya yang lain.
Suatu pagi, Bujang Enok sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia dihadang seekor ular berbisa. “Ssssss......Ssssss.....”, ular itu berdesis menjulur-julurkan lidahnya ke arah Bujang Enok. Melihat ular itu, Bujang Enok berusaha menghalaunya dengan baik, namun tidak juga mau pergi. Lalu ia pun mendiamkannya. Ketika ia diamkan, ular itu justru hendak mematuk Bujang Enok. Dengan terpaksa, Bujang Enok pun melecutnya dengan semambu (tongkat rotan), pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Sekali lecut, ular berbisa itu pun menggeliat, lalu mati. Setelah melihat tak bergerak lagi, Bujang Enok segera mengubur ular itu di pinggir jalan. Setelah itu, ia pun mulai mengumpulkan kayu api. Ketika akan memulai pekerjaannya, ia mendengar suara perempuan sedang bercakap-cakap. “Ular berbisa itu telah mati”, kata sebuah suara perempuan dari arah lubuk di hulu sungai. “Syukurlah, kita tidak akan diganggu ular itu lagi”, sahut suara perempuan lainnya. Semakin lama, suara-suara tersebut semakin jelas terdengar oleh Bujang Enok, namun ia tidak menghiraukan suara tersebut, dan ia terus melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu api.
Pada saat tengah hari, seperti biasanya Bujang Enok pulang ke pondoknya. Ketika dia masuk ke dapur pondoknya, Bujang Enok merasa heran, karena di dapurnya telah tersedia nasi dan segala lauk pauk yang lezat rasanya. Karena lapar yang tak tertahan, ia pun langsung melahap semua hidangan yang tersaji itu. Sambil menikmati kelezatan makanan itu, Bujang Enok menebak-nebak dalam hati, “Ibuku sudah meninggal dunia, aku pun tak punya saudara, tetanggaku juga sangat jauh dari sini. Lalu, siapa ya.....yang menghidangkan makanan ini?”. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya. Karena penasaran, ia pun berniat untuk mencari tahu orang yang menghidangkan makanan itu.
Keesokan harinya, Bujang Enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang telah berani masuk ke dalam pondoknya. Hari itu ia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi hingga siang ditunggunya orang yang masuk ke pondoknya. Bujang Enok menunggu di antara semak-semak yang berada tak jauh dari pondoknya. Menjelang tengah hari, tiba-tiba dari arah lubuk, datang tujuh gadis jelita. Mereka datang beriring-iringan dan menjunjung hidangan, lalu masuk ke dalam pondok Bujang Enok. Ketujuh gadis itu mengenakan selendang berwarna pelangi. Namun dari ketujuh gadis itu, gadis yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. “Waw, cantik sekali gadis yang berselendang jingga itu?”, gumam Bujang Enok sambil mengawasi gadis itu hingga hilang dari pandangannya.
Tak lama kemudian, ketujuh gadis itu keluar dari pondok Bujang Enok, dan berjalan ke arah lubuk hulu sungai. Dengan langkah hati-hati, Bujang Enok membuntuti ketujuh gadis jelita itu hingga ke pinggir lubuk hulu sungai, lalu bersembunyi di rimbunan semak-semak. Di balik semak-semak itu, Bujang Enok dapat melihat ketujuh gadis itu tengah berganti pakaian yang akan mandi. Masing-masing gadis itu menyangkutkan selendangnya pada sebuah ranting kayu. Mereka mandi sambil bersendau gurau, hingga tak menyadari kehadiran Bujang Enok yang tak jauh dari tempat mereka mandi. Suasana yang ramai itu, digunakan Bujang Enok untuk mengambil selendang yang tergantung di ranting. Dari balik semak-semak, Bujang Enok mengaitkan sebuah tongkat ke selendang yang berwarna jingga. Kemudian ia menariknya dengan pelan-pelan, lalu meraih selendang itu dan menyembunyikan di balik bajunya. Setelah itu, ia pun kembali bersembunyi di balik semak-semak.
Setelah selesai mandi, ketujuh gadis itu naik ke tepi lubuk lalu berganti pakaian. Masing-masing mengambil dan mengenakan selendangnya yang tergantung di ranting. Namun, di antara ketujuh gadis itu ada seorang gadis yang kehilangan selendang. “Selendang saya di mana?, tanya gadis itu sambil mencari-cari selendangnya yang hilang. Namun, tak seorang pun temannya yang tahu keberadaan selendang itu. Lalu, gadis itu meneruskan pencariannya, dibantu keenam gadis lainnya. Setelah beberapa lama mereka mencari, tapi selendang jingga itu tak kunjung ditemukan. Menjelang sore, keenam gadis yang telah mengenakan selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang-layang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang itu seorang diri di tepian lubuk. Sementara itu, Bujang Enok tercengang-cengang menyaksikan peristiwa itu dari balik semak-semak. Bujang Enok terus memandangi keenam gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Makin tinggi terbang ke angkasa, makin kecil keenam gadis itu terlihat. Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandangan Bujang Enok.
Setelah itu, Bujang Enok keluar dari persembunyiannya dan menghampiri gadis yang sedang mencari-cari selendangnya. “Apa yang kau cari, wahai gadis cantik?” tanya Bujang Enok. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang berwarna jingga, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Gadis itu sambil menyembah. Bujang Enok menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata: “Saya bersedia mengembalikan selendang jingga milik Tuan Putri, tetapi dengan syarat, Tuan Putri bersedia menikah dengan saya,” kata Bujang Enok. “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula, apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita akan bercerai kasih,” kata gadis jelita itu dengan tulus. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu. Nama saya Bujang Enok,” jelas Bujang Enok memperkenalkan dirinya. “Nama saya Mambang Linau,” kata gadis jelita itu membalasnya. Sejak saat itu, mereka menjalin cinta kasih dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bujang Enok dan Mambang Linau hidup bahagia, rukun dan berkecukupan.  
Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Kemudian sang Raja pun memanggil Bujang Enok menghadap kepadanya untuk diangkat menjadi Batin (Kepala Kampung) di kampung Petalangan. Bujang Enok pun datang ke istana. Setelah di hadapan Raja, “Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”, tanya Bujang Enok sambil memberi hormat. “Wahai Bujang Enok, bersediakah kamu saya jadikan Batin di kampung Petalangan?‘, sang Raja bertanya pula. “Ampun, Baginda! Jika itu kehendak Baginda, dengan senang hati hamba bersedia menjadi Batin”, jawab Bujang Enok pelan sambil memberi hormat. Kesediaan Bujang Enok menjadia Batin membuat sang Raja senang. Beberapa hari kemudian, Bujang Enok pun dilantik menjadi Batin di kampung Petalangan.
Sejak menjadi Batin, Bujang Enok pun menjadi salah seorang kepercayaan sang Raja. Setiap mengadakan pesta, sang Raja selalu mengundang Bujang Enok. Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Dalam pesta itu wajib diisi dengan tari-tarian yang dipersembahkan oleh dayang, istri pembesar istana, istri para penghulu dan kepercayaan raja, termasuk istri Bujang Enok, Putri Mambang Linau. Setelah acara dimulai, satu persatu para istri mempersembahkan tarian mereka. Putri Mambang Linau yang sedang menyaksikan pertunjukan tarian itu, mulai berdebar-debar. Dalam hatinya, “Jika aku ikut menari, berarti aku akan bercerai dengan Suamiku”. Baru saja ia selasi bergumam, tiba-tiba, “Kami persilakan Putri Mambang Linau,” titah Raja diiringi tepuk tangan para hadirin. Mendengar titah sang Raja, hatinya pun semakin berdebar kencang. Bujang Enok yang duduk di sampingnya menoleh ke arah istrinya, “Wahai adinda Mambang Linau, kakanda menjunjung tinggi titah raja,” bisik Bujang Enok. Mambang Linau mengerti maksud bisikan suaminya, lalu menjawab “Demi menjunjung titah raja dan rasa syukur atas tuah negeri, saya bersedia menari,” jawab Mambang Linau seraya mengenakan selendang berwarna jingga dan kemudian menuju ke atas pentas.
Sebelum memulai tariannya, Putri Mambang Linau terlebih dahulu melakukan gerakan-gerakan persembahan untuk menjaga tata kesopanan dalam istana dan menghormati sang Raja. Setelah itu, ia pun mulai menari layaknya seekor burung elang. Ia melambaikan selendangnya seraya mengepak-ngepakkannya. Perlahan-lahan kakinya diangkat seperti tak berpijak di bumi. Tiba-tiba Mambang Linau meliukkan badannya, dan seketika itu ia pun terbang melayang, membubung ke angkasa menuju kayangan. Semua yang hadir terperangah menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali lagi. Sejak itu pula, Batin Bujang Enok bercerai kasih dengan Putri Mambang Linau. Betapa besar pengorbanan Bujang Enok. Ia rela bercerai dengan istrinya demi menjunjung tinggi titah sang Raja. Menyadari hal itu, sang Raja pun menganugerahi Bujang Enok sebuah kehormatan yaitu dilantik menjadi Penghulu yang berkuasa di istana. Dari peristiwa ini pula lahir sebuah pantun yang berbunyi:
Ambillah seulas si buah limau
Coba cicipi di ujung-ujung sekali
Sudahlah pergi si Mambang Linau
Hamba sendiri menjunjung duli

Setelah peristiwa itu, Raja Negeri bertitah bahwa untuk menghormati pengorbanan Bujang Enok, maka setiap tahun diadakan acara tari persembahan. Tarian ini mengisahkan Putri Mambang Linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan Bujang Enok. Karena gerakannya menyerupai burung elang yang sedang melayang (elang babegar), maka tarian itu dinamakan tarian elang-elang. Kini, masyarakat Riau lebih senang menyebutnya tari olang-olang. Tarian olang-olang ini biasanya dimainkan dengan diiringi oleh gendang (gubano) rebab, calempong dan gong. Tarian ini dapat dijumpai di kecamatan Siak dan Merbau, kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia. (SM/sas/2/6-07)
Sumber:
  • Legenda Puteri Mambang Linau. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.
Budaya Tradisional Bengkalis. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu UNRI (P2BKM-UNRI).



By : NILA SARI & RAHMA FITRI